Kamis, 26 Oktober 2017

Jilbab Traveler

“Ayok jalan-jalan bareng gitu. Ke Jakarta boleh lah...”
Percakapan sederhana yang akhirnya mengantarkan kami bertiga, si anak daerah, untuk bertandang ke Ibu Kota, Jakarta. Satu hari setelah percakapan itu, kami tak main-main, tiket pulang-pergi langsung di-booking. Lalu, do’a dan harapan kami semoga Allah berikan kesehatan. Agar kami bisa mewujudkan salah satu harapan kecil kami, traveling to Jakarta.


Tibalah hari yang ditunggu, sesuai yang direncanakan kami menuju Jakarta menggunakan Kereta Api Sembrani Eksekutif via Stasiun Tawang Semarang. Kereta kami berangkat jam 22.00. Kenapa kami memilih yang malam? karena untuk menghemat biaya penginapan. Kami check in 4 jam sebelum keberangkatan kereta. Wow! Ya kan ngamalin man ‘arafa bu’da as safari ista’adda (barang siapa mengetahui jauhnnya perjalanan, hendaknya ia bersiap-siap). Nah datang awal ini adalah satu persiapan dalam safar kami, agar tidak tertinggal kereta.Lagian lebih baik datang awal ke stasiun daripada kami berangkat malam dari rumah. 

Menanti Sembrani

Selama menanti kereta, kami membicarakan berbagai macam hal, mulai dari perjalanan yang baru saja ditempuh dari rumah sampai rencana-rencana yang akan kami wujudkan esok hari. Menunggu tanpa mata terlelap, memasang indera pendengaran dengan sebaik mungkin agar ketika pengumuman kedatangan kereta kami tak terlewat. Pukul 22.00 pengumuman bahwa kereta kami yang akan segera tiba diumumkan melalui pengeras suara dan juga oleh para petugas menggunakan TOAnya. Kami diinstruksikan untuk menuju peron 3. Kamipun segera mengangkut perbekalan kami dan menuju peron 3, menanti kedatangan kereta kami.

Kereta pun berhenti. Para penumpang dipersilakan masuk ke dalam kereta dan menempati seat masing-masing.Tidak susah kami bertiga menemukan seat yang tertera di tiket kami. Dan ini adalah pertama kalinya kami menumpang kereta kelas Eksekutif, yaaa lebih nyaman daripada kelas Ekonomi lah. Jaket yang ragu-ragu aku tinggalkan pun tidak membuatku menyesal, karena di sana sudah disediakan bantal dan selimut. Berbeda dengan kereta kelas Ekonomi, para prama menawarkan bantal ke gerbong-gerbong. Tapi ternyata itu untuk disewakan, jadi harus bayar kalau mau pakai. Anyway, selama di kereta kami memilih untuk istirahat, menyimpan tenaga untuk esok.


Kereta kami tiba di Stasiun Gambir Kamis, 12 Oktober 2017 sekitar pukul 04.15, sesuai jadwal. Kami bertiga meninggalkan kereta dan berjalan mengikuti tanda exit yang terpasang, karena kami semua baru sekali itu menginjakkan kaki di stasiun itu. Setelah melewati ruangan-ruangan besar nan ramai dan beberapa kali menuruni tangga akhirnya kami tiba di pintu keluar. Sampai di pintu keluar kami bingung, khawatir jika pintu yang kami lewati itu ternyata salah. Setelah memantapkan hati, kami segera membuka aplikasi Grab, kami sangsi apakah para driver sudah beroperasi atau belum di pagi buta itu. Namun kami tetap mencoba, dan alhamdulillah tidak lama kami menemukan driver dan memintanya untuk mengantarkan kami ke Masjid Istiqlal.


Masjid Istiqlal

Sesuai rencana, kami ingin melaksanakan jamaah salat Subuh di Masjid Istiqlal dan i'tikaf sampai waktu syuruq. Namun sayang setiba kami di sana, salat Subuh sudah dimulai. Usai mendapatkan air wudhu yang sangat membutuhkan pengorbanan itu akhirnya kami bisa bergabung jamaah Subuh satu rekaat. Alhamdulillah 'ala kulli hal.


Usai salat Subuh kami bebersih dengan mengantre banyak orang. Ya biasalah karena memang Masjid Istiqlal dijadikan tempat transit. Eh aku juga gitu. Eh engga ding, kan aku niatannya mau i'tikaf di situ sekalian bebersih. Hehe


MONAS (Monumen Nasional)

Seperti anak daerah lain, salah satu destinasi wisata di Jakarta adalah Monas. Menuju Monas kami menumpang sebuah bajaj berwarna biru. Dan ini menjadi pengalaman pertama seumur hidup. Menumpang kendaraan roda 3 dengan suara cukup menggelegar yang hanya ada di Ibukota.


"Turun di mana, Mbak?" tanya pak sopir kepada kami
"Di depan pintu masuk Monas ya, Pak." jawab kami.
Kami pun turun dari bajaj itu di tempat yang kata pak Sopir adalah pintu masuk Monas. Memang gerbang masuk Monas, tapi ternyata gerbang itu ditutup. Kami yang memutar langkah dengan gamang, berharap langkah kami memang benar menuju arah pintu Monas.

Setelah cukup lama menyusuri trotoar, langkah kami berhenti pada sebuah warung tenda. Memenuhi hak perut yang sejak pagi melilit. Inginnya menikmati kuliner khas Jakarta yang tidak kami temui di kota kami, namun apa mau dikata, kami hanya menemukan soto dan ayam goreng. Tidak ada pilihan lain selain mie instan. Okelah, kami sadar, kami bukanlah peliput kuliner seperti di tivi. Jadi, kami nikmati saja yang ada.

Monas, sebuah tugu yang berdiri gagah di tengah-tengan lapangan Medan Merdeka dibangun pada masa Presiden Soekarno untuk mengenang perjuangan rakyat Indonesia dalam merebut kemerdekaan dari penjajah pada masa itu.


Menuju bangunan Monas, kami melewati sebuah lorong panjang. Sampai di bangunan Monas, kami disuguhi berbagai macam ornamen para pahlawan dalam memperjuangkan Indonesia dari para penjajah. Kemudian kami naik ke puncak menggunakan lift.


Dari puncak, kami bisa menyaksikan sebagian daerah Jakarta. Jika cuaca hari itu cerah, mungkin jarak pandang akan lebih luas, sayang hari itu mendung disertai gerimis.


Pasar Tanah Abang

Sebenarnya destinasi setelah Monas adalah Taman Suropati. Namun karena rasa capek dan juga mempertimbangkan banyak hal, maka kami memutuskan untuk langsung menuju pasar Tanah Abang. Kata banyak orang pasar itu menyediakan banyak pakaian dengan harga murah. Perempuan mana yang tidak tergiur dengan iming-iming itu?

Dan benar, begitu kami mesuki pasar mata kami disuguhi berbagai model pakaian.


Kota Tua

Merupakan peninggalan sejarah Batavia pada masa kepemimpinan Fatahillah. Menjadi pusat pemerintahan pada masa itu.


Tidak lama kami berjalan-jalan di sana, karena kaki kami sudah merasa sangat kelelahan menopang tubuh kami beserta ransel yang lebih berat (kan habis belanja di Tanah Abang, hehe), selain itu karena waktu sudah sore. Maka kami memutuskan untuk menuju penginapan untuk istirahat.


Pulang: Flying with Nam Air

Pagi-pagi kami selesai berkemas, dan sudah siap untuk meninggalkan hotel. Bukan karena pengen segera pulang, namun karena kami kelaparan. Perut yang tak terisi sejak semalam menagih haknya. Kami search kafe atau rumah makan di sekitar hotel. Tapi ternyata di mana-mana jam segitu masih tutup. Ya sudah, kami asal berjalan mencari-cari rumah makan, dan menemukan sebuah warung tenda yang menjual bubur ayam. Tak ada pilihan lain. Daripada makan di bandara, bisa-bisa nanti ngga tega makan karena saking mahalnya. Haha...

Kami tiba di bandara, segera check in. Kemudian menunggu boarding 4 jam hanya dengan ngobrol. Hehe


Boarding call. Kami segera menuju pesawat.



Finally, safely landed at Ahmad Yani Airpot. Alhamdulillah...


Unplanned: Transmart Semarang

Rencana sejak di Jakarta kami makan siang di Semarang. Bingung mau makan di mana. Pengennya di deket jalan yang dilewati bis Solo-Semarang agar enak transportnya (baca: ngirit). No idea!
"Eh, apa kita makan di Transmart aja? Mesti di sana ada foodcourt-nya." tiba-tiba aku ketemu ide. Aslinya sih penasaran.
Kedua temanku mengiyakan. Jadilah kita makan siang di Transmart.

Usai makan, kami berniat untuk melihat-lihat. Masuk ke Trans Studia. Foto-foto. Eh, ngga sengaja ketemu sama anak-anak.



dan...
finally,
mission completed!


11 - 13 Oktober 2017
with dearest friends Arifaturrohmaniah & Asfi Sulasiyah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar