Rabu, 07 Juni 2017

Nikmat Manakah yang Kamu dustakan?

Pekan kemarin aku sempatkan untuk pulang. Lebih tepatnya sih bolos, karena memang belum libur. Sudah lamaaa banget engga menyapa kampung halaman. Membuatku rindu pada segala hal yang ada di sana. Rindu pada suasananya nan damai, rindu pada kehangatan para tetangga, rindu celoteh anak-anak kecil yang kerap datang ke rumah. Dan rindu yang paling besar adalah rindu pada keluarga.


Yap, langsung ke intinya aja ya.... kali ini aku pengen berbagi sedikit tentang yang kemarin terjadi saat aku pulang. Pagi hari yang mulai panas, kakak sepupu datang ke rumah. Mengembalikan setumpuk buku yang sudah selesai dibaca, dan mau mengcopy film yang ia request untuk didownload. Selain itu, dia juga pengen pinjam buku lagi.

Di tengah percakapan ngalor-ngidul, si kakak memberi kabar kalau dia dapat panggilan tes masuk kerja. Aku bahagia banget dengernya. Aku pun memotivasi dia untuk terus berikhtiar. “Pokoknya harus terus usaha, Mbak.” Kataku kepadanya. “Tesnya di Kalimantan.” Lanjutnya... membuatku terperangah.

Melihatku keheranku, ia menambahkan, “Nanti uang transport dan hotelnya diganti kok.” Ucapannya membuatku semangat kembali. “Ya udah, ayok langsung konfirmasi ke nomor itu.” Dan aku segera browsing tiket PP Semarang-Kalimantan sebagai perkiraan yang yang akan disiapkan untuk berangkat kesana.
Mendengar berita itu, bagaimana aku tidak bahagia setelah sekian lama berburu pekerjaan, memasukkan surat lamaran ke berbagai perusahaan, dan kini ada panggilan wawancara?

Setelah konfirmasi ke nomor yang tertera, dia diminta untuk mengirim data diri untuk proses booking tiketnya. “Ayo Mbak, cepetan dikirim!” desakku tak sabaran. Terlihat dia berpikir. Memang perlu konsultasi dengan keluarga dulu, kan? Dia pun pulang ke rumah.

Aku melanjutkan hasrat mencoba resep yang aku tonton di Youtube. Padahal puasa, dan itu jam 9 pagi. Dan sudah mau masak? Mumpung mau, udah gitu aja. Semua bahan sudah disiapkan. Saatnya baking. Ceritanya mau masak sehat gitu, no goreng and no MSG. Darr! Pas aku nyalain oven, listrik mati. Frustasi. Lalu tidur.

Di tengah aku terlelap. HP ibuku berdering sangat keras. Biasa kan ya, orang tua suka ‘alay’ kalau masalah HP. Nada deringnya kenceeeeeeeeng banget. Beda banget sama anaknya ini, HPnya selalu di silent mode. Karena apa? HP ibuku tidak selalu di tangan. Nah, kalau HPku? You know me so well, laah.... Jadi ya, ngapain juga pakai nada dering? Hehe.... Demi melihat identitas penelepon itu, sangat terpaksa aku bangun dengan mata kriyip-kriyip menuju tempat HP berada. Yap, dari dia yang baru dibahas ini. Ngajakin aku ke Salatiga untuk transfer biaya PP Semarang-Kalimantan. Sekarang banget ya? Ya, karena batas waktunya 1 jam setelah SMS dari pihak travel dikirim.

Eh iya, mungkin perlu aku cerita tentang “kenapa tadi tidak telepon ke HPku?” Jawabannya bukan karena silent mode. Tapi, karena entah karena apa kalau di rumah HPku ngga bisa nangkep sinyal. Bikin pengen cepet-cepet beli HP baru. Haha.... Jadi ya gitu, kalau di rumah aku komunikasinya pake HP ibuku. Paling parah ya tethering, dulu, sekarang engga pernah. Lebih memilih menikmati kesunyian.

Lalu, dengan cepat aku bersiap-siap. Tak ingin menyiakan kesempatan. Tak lama kemudian ia sampai rumah. Kemudian berangkat.
Di perjalanan, kami berbincang. Dari situ muncul keraguan dan kecurigaan. Ini beneran ngga sih? Ya karena memang kami banyak menemukan keanehan. “Ya udah, kita ke wi-fi corner aja dulu. Kita kroscek semuanya,” usulku.

Setiba kami di wi-fi corner, membuka netbuk dan dan mencari tahu tentang hal yang kami ragui dan curigai. Tentang rekrutmen itu. Apakah benar adanya? Ataukah modus penipuan? Di web perusahaan tidak ada informasi rekrutmen, website yang tertera di e-mail tidak bisa dibuka. Lalu...., ada postingan semisal di FB. Hmm... komentar-komentar di bawah postingan itu memberikan petunjuk kepada kami bahwa rekrutmen itu hanyalah boongan. Huft...


Syukur kami pada Rabb, yang menuntun kami untuk tidak tergesa dalam berlaku. Syukur kami karena telah menaqdirkan saldo rekening Mandiri-ku yang jumlahnya di bawah jumlah yang harus ditransfer. Sehingga, uang itu tidak melayang sia-sia dari kantong kami dan berpindah ke kantong penipu dan berubah menjadi uang haram untuknya, wallahu yahdih! Alhamdulillah. Alhamdulillah. Fabiayyi alaairabbikumaa tukadzdzibaan?!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar