Jumat, 14 April 2017

Batik Left Me in Soetta


 Kamis, 24 Maret 2017. Pukul 09.00

Syalala... mari pulang. Alhamdulillah urusan Bogor sudah selesai. Salatiga menanti. Ehehe..
Oke, kami berempat (Aku, dek Ria, pak lik, dan bu lik) bertolak ke Bandara Soekarno Hatta diantar Pak Budi, sopir yang menemani kami selama di Bogor. Awalnya, jalanan kota Bogor lancar. Karena hari itu angkot kembali mogok. No angkot = no macet. Mungkin ini slogan yang cocok untuk kota Bogor. Konon, yang bikin Bogor macet adalah karena sangking banyaknya angkot yang beroperasi. Faktanya? Entahlaah... yang jelas, kota Bogor adalah kota termacet nomor satu di Indonesia. 
Memasuki tol, mobil kami bergerak lambat. Kendaraan hari itu padat syekalee... *inget kata ustadz Nasrullah* Padahal jam-jam itu harusnya jalanan sudah lengang, karena bukan lagi jam masuk kantor, pun bukan hari libur atau akhir pekan. Tapi, kenyataannya memang seperti itu. Jalanan PADAT. Hingga, pelan-pelan rasa khawatir menghantui kami. Doa dan harap kami semoga tidak ketinggal pesawat Batik yang sudah kami booking dan jadwal flight-nya jam 13.00.

Kami berusaha tenang. Kalau rezeki, pasti ngga kan kemana. Mobil terus melaju. Meski kadang harus berhenti, menunggu mobil yang berada di depan kami bergerak maju. Yah, nikmati saja perjalanan ini. Masih berusaha tenang.

12.45 mobil kami tiba di Bandara Soekarno Hatta terminal 1. Kami bergegas menurunkan barang bawaan dan buru-buru meletakkannya di atas troly. Kami berlarian memasuki pintu masuk Bandara, lantas menuju loket check in. Dan apa? Kami ngga bisa check in, karena ya memang terlambat. Dan barang bawaan kami sangat banyak.

Setelah dioper kesana-kemari, kami tetap tidak bisa check in. Berusaha sabar. Berusaha ikhlas. Ya sudah. Allah Maha Kaya, right?

Kami harus pulang hari ini! Aku dan dek Ria berusaha mencari tiket dengan gadget yang kami punya. Nemu penerbangan hari itu, Citylink. Dan uang yang kami bawa cukup lah.
“Eh, langsung pesen di Customer Service aja, Mbak.” Seru dek Ria.
“Berarti ini aku tutup ya”?
“Iya, Mbak.”
Aku menutup laman browsing, sambil memacu langkah menuju CS Citylink yang ada di luar. Kembali berlarian menaiki dan menuruni tangga. Tiba di CS Citylink, ternyata tiket penerbangan hari itu sudah habis. Huft.. ada dua calo menawarkan tiket, namun demi berhati-hati, kami tolak semua tawaran itu.
Kebingungan semakin menjadi. Kembali kami buka laman browsing, mencari tiket untuk penerbangan ke Semarang hari ini. Ow ow... tinggal Garuda, dan harganya wow. Karena bukan harga promo lagi. Dan kami berempat, jadi harganya terasa mahaaaal banget. Tapi, dek Deddy siap mentransfer. Maka jadilah kami booking tiket tersebut. Well, emang kudu ya PP naik Garuda terus?~

Dengan diantar oleh saudara yang bekerja di Angkasa Pura II, kami menuju Terminal 3 menggunakan shuttle. Seumpama ngga ada saudara ―karena ketidakmudengan kami― pasti kami menggunakan taksi, dan harus keluar duwit lagi. Untung inget saudara, meski agak terlambat. Hehe...

Pukul 14.45 tiba di Terminal 3 nan megah itu, kami segera menuju loket check in. Jadwal awal kami jam 19.30 malam. Kami tidak terburu-buru, karena memang waktu masih longgar. Cuman, perut kami semua melilit kelaperan, di tambah capek. Mantaaap! Ya, kami ingin segera makan, sebenarnya. Tapi ternyata, petugas check in menawari kami untuk ikut penerbangan sebelumnya jam 15.25. tanpa pikir panjang, tawaran kami iyakan. Daripada nunggu malem kan, ya? Setelah menemui beberapa petugas, fix kami ubah penerbangan jam 15.25.

Berhubung jam penerbangan kami dimajukan, kami mengurungkan niat kami untuk makan siang. Masih trauma gaes. Apalagi yang ini harga tiketnya hampir 2 kali lipat harga PP kami yang pertama. Haha... “Nanti di pesawat dapet snack yang semoga mengenyangkan kok.” Jadi ya, kami tunggu panggilan boarding dengan duduk manis dengan menahan perut yang melilit.

Panggilan boarding terdengar di seantero bandara. Kami segera mengambil line. Alhamdulillah, penderitaan segera berakhir.
Cukup lama kami berdiri mengantre, namun pintu ngga dibuka. Daaan, delayed! T_T dan lagi-lagi, trauma itu belum ilang. Tetap menahan lapar, karena jika kami masuk ke kafe, kami tidak bisa memprediksi berapa lama makanan disajikan dan berapa lama kami menyantapnya. Untuk lebih aman, kami memilih berkawan dengan lapar.

Finally, (real) boarding time. Oh iya, karena kami ubah penerbangan kami dapet seat-nya berpencar. Dan subhanallah, proses take off-nya lamaaaaaaa banget. Terasa mencekam. Parno! Critical eleven gitu lho. Haha.. Usus dan lambung sudah merindu sesuatu untuk dicerna. Kepala jadi terasa sedikit pusing, efek lapar.
Pelan-pelan pesawat meninggalkan landasannya. Sampai cukup lama lampu seat belt tak kunjung mati. Mencekam. Aku memilih-milih tontonan yang ada di layar di depanku. Akhirnya aku memilih mendengarkan lagu-lagu saja. Toh misal nonton film ga bakal selesai.
Snack pun datang. Sayangnya tidak seperti yang aku harapkan, yakni yang mengenyangkan. Air mineral super kecil, cookies, dan roti kecil ditambah orange juice ―Beda banget sama pas berangkat, snacknya super mengenyangkan― langsung amblas seketika.

Menikmati perjalanan nan mencekam. Lampu seat belt belum juga mati. Luaran gelap, mendung. Duduk di antara 2 cowok yang tak dikenal, membuatku asik sendiri mengotak-atik layar di hadapan.

Senja Semarang menyambut kami. Tanaman bakau terlihat hijau dari dalam pesawat. Tanda pesawat kami akan segera mendarat di bandara Adi Sucipto. Alhamdulillah proses landing berjalan lancar, dan cepat. Akhirnya, pesawat kami berhenti dan para penumpang dipersilakan meninggalkan pesawat. Setelah kami berempat berkumpul, kami menuju pintu kedatangan. Mengambil barang-barang yang kami titikan di bagasi. Barang-barangpun terkumpul. Menuju parkiran. Memasukkan barang-barang ke mobil, dan “Ayo mangan sik.” Haha... laper akut ini ngga bisa dibiarkan lagi. Khawatir semakin kronis. Makan di warung sederhana dekat mobil kami terparkir. Alhamdulillah!

Kami tinggalkan kota Semarang yang sudah menggelap. Mobil kami berjalan menuju kota Yogyakarta, mengantar dek Ria. Baru pulang ke Salatiga. Tengah malam kami baru tiba di Salatiga. Alhamdulillah ‘ala kulli haal...


Endingnya, semua adalah taqdir Allah. Walau apapun sudah dipersiapkan. Namun, ketika Allah sudah memutuskan, kita (manusia) bisa apa? Ya, harus ikhlas. Mengambil hikmahnya. Pasti tak ada yang sia-sia. Karena memang yang terbaik. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar