Senin, 02 November 2015

"Good Morning" from Jekardah

Liburan seminggu. Dua hari, Senin-Selasa ngampus seperti biasa. Lalu, bagaimana dengan lima hari yang lain? Karena terbiasa sibuk (iyain aja lah ;) ), jadi kalau ada waktu luang bawaannya bingung, mau ngapain??!

Ya, untuk melengkapi liburan yang rumpang, kayaknya jenguk adek-adek yang sedang di rantau bakalan seru. Jenguk adek-adek? Hmm... jalan-jalan sih niat utamanya. “Ayo, Mbak, kesini..” kata adekku yang aku sampaikan bahwa aku mau kesana. Tiket kereta pun segera di-booking.



“Dek, aku udah dapet tiket!” kabar itu segera aku layangkan ke Bogor.
“Untuk hari apa, Mbak?” balasnya kemudian.
“Rabu malam, Dek. Sampai Jakarta Kamis. Gimana, Dek, hari itu ada acara ya?” tetiba rasa khawatir menyusup.
Lah ya, setiap aku tanya kalau aku kesana ntar ganggu kegiatannya Dek Ria gak? Selalu dia menjawab, “Yang penting Mbak Win kesini dulu aja. Nanti gampang, Mbak.” Aku jadi santai-santai aja.
Dan benar, “ada isolasi, Mbak. Hoho”

Isolasi? Opo kuwi?? Aku ga mudeng... apa Bogor kotanya sedang diisolasi? Duh, ga nyandak mikirku. Dan ternyata yang dimaksud adalah isolasi DNA. Dikasih taupun aku masih ngga mudeng. Haha... ya intinya tuh hari itu dia nge-lab neliti DNA- DNA gitu lah. ~

Denger kabar begitu, aku puyeng. Tiket sudah dipesan. Bisa ga diganti hari? Allah... di Jakarta aku harus nemuin siapa? Otak blank! Mau ngehubungin dek Deddy? Masak iya, aku ntar nginep di kosnya? Serem ye.. Dek Mahmud, dihubungi ga bisa. Adek ipar? Oh no!! Kenapa laki semua sih??

Lalu, petunjuk Allah datang lewat BBM. Iseng aku chat -mbak Ihda, teman yang selalu sekelas sejak MI hingga MA-.
“Mbak, aku mau ke Jakarta lho.” Ngga berani berharap banyak.
“Kemana, Win?” antusias ih jawabnya.
Secercah harapan. Hehe... “Mau ke tempat mbak Ihda. Boleh gak?”
daaaan.... bisa! Aiih... pucuk dicinta ulam pun tiba. Gayung bersambut.
Alhamdulillah...

Fyi, ni adalah perjalanan terjauh sendirian, ke tempat yang sama sekali belum aku kenal pula. Dan juga, ini adalah pertama kalinya aku naik kereta. Jadi, cenat-cenutnya berpangkat-pangkat. Hehe...

---

OTW stasiun. Hari itu bertepatan dengan 1 Muharram. Banyak digelar berbagai kegiatan perayaan Tahun Baru. Beberapa ruas jalan yang aku lewatin ditutup. Sehingga aku harus muter-muter. Padahal waktu keberangkatan kereta sudah mepet. Hati berdebar, masih bisa terkejar apa tidak? Sampai di stasiun, kereta sudah siap berangkat. Tiket pake susah di-print segala. Kena marah deh sama petugas. Setelah dibawa ke loket, tiket berhasil di-print. Huft... akhirnya. J
Ini dia tiketnya ....

Aku berlari menuju kereta yang sudah siap berjalan. Tiba di gerbong dan tempat duduk, aku tersenyum-senyum, menertawakan diri atas kejadian yang baru saja aku alami. -Tak peduli dengan orang-orang yang ada di sekeliling. Peduli amat, ketemu juga sekali kok.-  Pokoknya lucu! Kayak di sinetron-sinetron. Haha...

Kereta bergerak semakin jauh meninggalkan kota Semarang menuju Stasiun Senen Jakarta. Satu kepuyengan masih bersarang di kepala. Aku buta stasiun. Aku buta Jakarta. Modal nekat pokoknya! Kereta akan tiba di stasiun Senen jam 1.30 dini hari. Berusaha untuk tidak ambil pusing. Berpikir simple aja. Nanti nyari musholla lah. Berlindung di rumah Allah. Ah, aku orang baik (pede bangeeeet!! :p) in sya Allah juga akan ketemu orang baik. Hoho...

Night at the train. :D


Dini Hari di Stasiun Senen

1.30an. kereta yang aku tumpangi sudah melewati banyak stasiun yang tak sempat aku hitung. Tibalah di tujuan akhir, Stasiun Senen. Aku melangkah tegar keluar dari kereta. Peron-peron sepi. Hanya kami yang baru saja turun dari kereta. Petugas pun tak kami temui. Karena memang jam segitu waktunya istirahat, bukan waktunya bekerja. Mataku segera mencari-cari tulisan toilet dan musholla. Setelah aku temukan, aku pun mendekati tulisan itu. Namun, ternyata semuanya tutup. Aku memutar langkah menuju entah. Aku harus kemana? Aku semakin panik.

Di tengah kebingungan itu, Allah pertemukan aku dengan orang baik (lupa siapa namanya) yang juga akan bermalam menunggu pagi di stasiun. Allahu Akbar! Terbukti, orang baik akan dipertemukan dengan orang baik. Hehe... tidak mungkin kami berdua rebahkan badan di teras stasiun yang sudah sesak oleh para musafir. Setelah sedikit berbincang, aku tahu orang baik itu datang dari Sidoarjo. Beliau seorang dosen. Datang ke Jakarta mengurus sertifikasinya.

Para bapak para ibu malam itu meramaikan halaman stasiun. Mereka menjajakan makanan, minuman, dan juga taksi. Masya Allah, di saat orang-orang sedang nikmat-nikmatnya istirahat mereka telah bekerja mencari nafkah untuk keluarganya. Semoga Allah karuniakan kekuatan untuk mereka dalam menghadapi peliknya kehidupan. Aamiin...

Subuh pun datang. Kami menuju musholla yang baru saja dibuka. Selepas sholat, kantuk pun melanda. Semalaman tidak tidur, porsi istirahat terpangkas banyak. Teklak-tekluklah aku di musholla itu sembari menunggu terang di Jakarta.

Matahari Jakarta semakin naik. Kota berangsur terang. Saatnya bangkit meninggalkan stasiun. And the next destination is Masjid Istiqlal. Tau, kan? Masjid ini adalah masjid terbesar se-Asia Tenggara. Kebayang seberapa besarnya? Let’s see... 
Istiqlal dari depan
Setibaku di Masjid Istiqlal, suasana masih sepi. Mungkin terlalu pagi. Aku memasuki pintu masuk, disambut bapak yang berjaga di penitipan barang. Aku titipkan sebagian barang bawaanku, dan menuju kamar mandi untuk mengusir lelah di tubuh, agar badan kembali fresh.

Saat aku mengantre kamar mandi, berdatangan orang-orang yang ingin mandi juga. Aku tebak, mereka adalah satu rombongan yang sedang mengadakan kunjungan.

Mandi selesai. Letih berkurang. Badan fresh. Aku langkahkan kakiku ke lantai dua bangunan itu. Masya Allah! Aku terkagum-kagum melihat indahnya Masjid itu, masjid yang biasanya aku saksikan hanya melalui TV, sekarang aku berada di dalamnya.

What I have to do? Aku muslimah, dan sudah bisa ketebak apa yang akan aku lakukan. Iya, kan?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar