Selasa, 08 September 2015

Aku Lupa Jalan Pulang

Selepas kuliah pagi itu, tubuhku lesu. Mata ngantuk tak tertahankan. Semalam insomnia akut. Sepertinya akibat porsi tidur siang yang berlebihan, lagi. Mata sulit terpejam hingga jam menunjukkan pukul 12 malam. Melewati malam bersama sunyi. Sendiri. Ditambah pagi tak sempat sarapan. Sempurna!

Inginnya segera sampai rumah, segera menghempaskan badan di kasur. Memberikan hak-hak badan yang semalam terdhalimi.

Namun, aku mampir toko buku sebentar di pasar kota Salatiga. Tidak butuh waktu lama hajat membeli buku tertunaikan. Aku pun menuju bunderan Kota depan Mal terbesar di Salatiga, Ramayana. Di sana berjajar angkot yang menunggu para penumpang dengan setia.

Angkot menuju rumahku bernomor 3, jurusan Macanan. Posisinya berada di tengah. Paling selatan adalah angkot bernomor 9, 10, dan 8. Aku melewati angkot yang berada di ujung selatan. Aku tolak 'pinangan' mereka, "mboten, Pak." Begitu kataku.
Aku terus melangkah ke barisan tengah di mana biasanya angkot nomor 3 mangkal. Aku memasuki sebuah angkot yang ada beberapa penumpang di dalam. Dengan asumsi, yang ada penumpangnya berarti siap berangkat. Ya kan, tidak hanya satu angkot -bernomor sama- yang mangkal di situ.

Angkot masih longgar. Aku ambil posisi duduk di samping pintu. Tas aku pangku. Aku keluarkan buku bacaan dan HP. Ketika aku sedang asik dengan kedua benda itu, buku berada di bawah HP (apa maksudnya? :D), angkot bergerak. Aku tak menghiraukan. Namun tetiba timbul keraguan oleh karena gerakan angkot yang tidak semestinya. Tahu apa aku tentang mobil berikut cara kerjanya? Haha.. maksudku, angkot nomor 3 dari bunderan berbelok ke arah utara, tapi aku tidak merasakan gerakan mobil berbelok. Aku angkat kepalaku sejenak meninggalkan euforia dunia maya. Hah, kok patung Pangeran Diponegoro?? Tanda angkot yang aku tumpangi melintasi jalan Diponegoro. Harusnya kan jalan Pattimura!! Aku salah naik angkot ini. Kuamati di kaca mobil bagian depan tertera angka 9. Allaaah!! :( salahku juga sih, tadi asal masuk aja. Tapi bener, deretan tadi adalah tempat mangkalnya angkot nomor 3. Bukan angkot nomor 9. Sopir angkotnya salah mangkal kali ya... huhu..
Antara anyel, sebel, dan ngerasa bodoh. Tetep aja yang salah ya aku. Mau nyalahin siapa lagi? Sudahlah... Lalu, setelah angkot melintas di jalan Moh. Yamin aku minta pak sopir menghentikan mobilnya. Turun dan kembali ke pangkalan angkot.

Tiba di pangkalan angkot. Malu, jika orang-orang yang tadi kutemui di sana, jangan-jangan masih mengingatku dan berhasil menerka-nerka kebodohanku yang memang benar adanya. Ah cuek aja! Sok terkenal banget deh ya. Lagian kalau terkenalnya cuma di kalangan sopir angkot, apa istimewanya? Hah?

Singkat cerita, akhirnya berhasil sampai rumah tanpa kesasar untuk yang kedua kalinya. Dan segera berbaik-baik pada badan. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar