Senin, 31 Agustus 2015

Sarapan Bagiku

Senin pagi, bukannya aku tak semangat hari itu. Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap menuju kampus. Oh ya, temen-temen harus tau, kelasku di semester ini dimulai jam 06.00. Jam enam, boy! Bisa bayangin, jam segitu ayam pun belum beranjak dari kandangnya. Sedangkan aku? Di saat ayam-bebek-sapi-kambing-kuda-kerbau-bahkan semut masih merem, dan mungkin juga kalian.  aku harus sudah stand by di kelas. ‘Bercengkerama’ bersama para mahasiswa-mahasiswi yang masih polos. Tentu taraf kepolosannya beda dengan anak SD, lah.

Anyway, sebenarnya ga begitu masalah, kecuali satu. Sarapan pagi. Karena bagiku sarapan adalah sebuah kewajiban. Kalau ditinggal, ‘dosa’. Yah, ini udah tradisi turun-temurun sih ya. Kalau ngga dilakuin bakalan kualat. Dan kejadian! Satu jam berada di kelas keringat dingin menyembul dari pori-pori kulit. Tangan terasa dingin. Kepala rasanya, entah. Kalau dipaksa mungkin aku bakalan pingsan. Hihi.. Fix, aku kelaparan! Segera aku mohon diri untuk istirahat di kantor. Teh hangat di kantor dan biskuit yang aku bawa sebagai bekal mungkin bisa sedikit mengganjal perut.

Aku buka pintu kantor yang masih tertutup. Kosong. Hanya tumpukan buku yang hendak dibagikan kepada mahasiswa. Sayang, gelas-gelas di meja samping pintu masih terbalik tanda masih kosong. Teh hangat belum tersaji. Aku raih gelas dan sayangnya lagi, dispenser dalam keadaan off. Nasib! Aku sandarkan tubuhku di kursi dengan leluasa. Air putih dan beberapa biskuit lancar melewati kerongkonganku. Perut pun terisi.  Badanku pun terasa lebih enak. Kemudian segera kembali ke kelas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar