Minggu, 10 Mei 2015

Solo, We are Coming: Terdakwa

Sebuah kesyukuran bagiku, Allah hadirkan akhwat cantik nan shalihah dalam hidupku. #eaaa.... Sahabat baruku, Arifaturrohmaniah namanya. Biasa aku panggil dengan Ukhty Ari. Sahabat yang sudi mendengarkan celotehku tentang anak-anak shalihah di tempat kami belajar bersama. Mereka yang unik. Mereka anak-anak yang hebat dan juga nggemesinFix, kami biasa ghibah. Jangan ditiru!! Hihihi
-o-

Keinginan kami untuk jalan bareng beberapa kali gagal. Entah karena tiba-tiba ada acara mendadak dari sekolah atau karena salah satu dari kami tiba-tiba berhalangan. Pokoknya adaaaa aja. Alhamdulillah, akhirnya rencana kami yang hanya ingin sekedar nonton film terkabul.

Hari itu Senin, 4 Mei 2015. Liburan sekolah. Karena gedung sekolah dipinjem SMP untuk UN. Liburan langka. Bagaimana tidak? Tempat kami belajar di MA, tapi sekolah diliburkan karena SMP UN. Bagi kami itu sesuatu banget. Ye, kan?!

Kelas hari itu selesai. Boong banget kan ya, liburan tapi masih juga ada kelas. Ya nasib. Memang aku kayaknya ga pernah punya hari libur yang utuh. Sekolah libur, kampus masuk. Kampus libur, sekolah masuk. Hmm... bener-bener liburnya kalau pas lebaran. 

Ukhty Ari juga sudah selesai ngurus ATM-nya yang ketelan mesin. Seleder, sih, yaa... *ups. Dan ternyata dia sudah menantiku di parkiran. Aku menemuinya. Kami pun berdiskusi. Setelah mempertimbangkan banyak hal, akhirnya kami memutuskan untuk ke Solo dengan naik motor. Di antaranya karena kami akan mampir ke sebuah warnet di dekat kampus UMS. Mau ngapainHunting film. Hahaha

Okey.. Let’s goooo....!! Eh, ga bawa helm. Ayolah cari helm dulu. Kami pun segera menuju toko helm. “Iki ra ono cegatan, to?” seloroh ukhty Ari kemudian. Dengan (sok) santai aku jawab, “Engga, engga.” yaa, karena aku ngga pernah nemu cegatan sih. Pas naik motor pastinya.

Pojok lapangan Pancasila Salatiga. Masih dengan sok pede dan sok mantap, kami berbelok menuju arah toko yang kami maksud. Ulalaa.... para polisi sedang menjalankan tugasnya di sana. Duuh...!! Kena deh! Polisi itu meminta kami untuk minggir. Dan meminta surat-surat kendaraan.

“Ngga pakai helm, ya?” Tanya pak Polisi yang memeriksa kami. Iya emang. Aku ngga pake helm. Jelas banget, Pak. Kenapa pake tanya sih? Hahaha...Ukhty Ari menjawab dengan penuh kejujuran, “Ini baru mau beli.” Lalu pak polisi senyum-senyum. Senyuman yang gitu lah. Pasti beliaunya ngira kalau kami tadi boong. Padahal jujur sejujur-jujurnya. Seandainya Anda tahu isi hati kami, Pak. Kami jujur. Demi Allah... sayangnya, Anda tak bisa membaca hati kami. Ya sudahlah.. toh tetep aja kami salah. Hehehe... dapet surat tilang deh. Maafkan kami, Pak Polisi... in syaa Allah ngga lagi deh. *piss* Maka, resmilah kami, eh, Ukhty Ari sebagai terdakwa pada kasus pelanggaran berkendaraan.

-o-

Jelas! Akhirnya perjalanan ke Solo tidak kami lanjutkan dengan naik sepeda. Serem. In sya Allah banyak hikmah yang Allah berikan. Mungkin, jika kami naik motor akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan ketika dalam perjalanan. Makanya Allah stop dulu di Salatiga dengan cara yang Ia kehendaki. Meski agak sebel. Hihihi.... Anyway, terima kasih ya Allah. *stay husnudzon pada Allah* Dan sejujurnya aku sendiri ngeri naik motor dalam perjalanan jauh binggo. Hehehe...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar