Rabu, 08 April 2015

Bukan Sepatu Abul Qosim


Everything is special!

Begitu juga sepatu di atas. Sepatu itu kalau tidak salah tiga tahunan yang lalu saya membelinya. Makanya bentuknya sudah tak keruan gitu. Hehe..

Setelah sekian lama aku tak memakainya, sepertinya lebih baik aku buang saja. Menuh-menuhin rak aja. Akhirnya, suatu pagi sebelum aku berangkat ke kampus, sepatu itu aku taruh di sebelah tempat sampah. Agar dibuang oleh petugas kebersihan.

Namun, ketika aku pulang dari kampus, “loh, kok sepatuku dibalikin sih?” aku menggerutu. Sepatu itu kembali berada di atas rak  yang ada di depan kamar. Akupun mulai menerka-nerka, oh, ini paling mbak-mbak tukang bersih-bersih. Mungkin dia mengira sepatu itu terjatuh, jadi dia ingin mengembalikannya ke rak.

Esoknya lagi, aku berangkat ke kampus. Aku letakkan sepatuku ke dalam tempat sampah. Biar petugas kebersihan tahu kalau sepatu itu bener-bener mau aku buang.

Aku pulang dari kampus. Dan lagi, mendapati sepatu itu berada di atas rak. Duuh, kok kayak yang di kisah hidza’ Abil Qosim aja sih!

Sepatu Abu Qosim

Sepatu yang telah berumur 7 tahun, dan selalu ia pakai. Jika ada bagian sepatu yang sobek, dia menambalnya. Sehingga sepatu itu menjadi sangat berat.

Pada sebuah pemandian umum, salah seorang sahabat merekomendasikan agar ia membeli sepatu baru. Toh hartanya juga banyak. Iapun setuju. Lalu ia mandi.

Ketika ia keluar dari kamar mandi, ia mendapati di samping sepatu ‘berat’nya ada sepasang sepatu yang masih baru. Ia husnudzon bahwa sahabatnya dengan kebaikannya membelikan sepatu untuknya. Segera sepatu itu ia kenakan, dan pulang ke rumah.

Pemilik sepatu baru keluar dari kamar mandi. Tak menemukan sepatunya. Lalu ia meminta ajudannya untuk mencari sepatu itu. Nihil. Hanya ada sepatu. Dan diketahuilah pemilik sepatu itu, Abu Qosim. Beberapa ajudan  menuju rumah Abu Qosim. Benar, sepatu yang dicari telah dibawa oleh Abu Qosim, maka iapun dihukumi pencuri. Kemudian dijatuhi hukuman dengan ditahan serta membayar denda.


Lagi, lagi, dan lagi ia menyingkirkan sepatunya, kesialan menyertainya. Dan akhirnya hartanya habis oleh karena sepatu itu. 

(Cerita sepenuhnya di Al-Arobiyah li Al-Nasyiin jilid 5)



Memang kisahku tak sebegitu mengenaskan, tidak ada kesialan ataupun kerugian akibat sepatu itu. Namun, rasanya lucu saja. Sudah mau dibuang, tapi ada orang yang mengembalikan ke rak. Dan ternyata, pelakunya adalah teman sekamarku. Menurutnya sepatu itu masih bagus, sayang kalau dibuang. Hoho...  aku yang makai udah nggak nyaman, biarlah dibuang. Dari pada menuh-menuhin rak. Setelah itu, lancarlah misi penyingkiran sepatu. Haha... 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar