Senin, 30 Maret 2015

Penakhlukan Gunung Andong

Tiap kali lihat foto orang sedang berada di atas gunung, bawaannya envy. Huhh! Aku juga pengeeeeeennn... lagi-lagi kata-kata itu hanya tersesak di dada. Si kakak sepupu, mbak Muna, hobinya naik gunung sejak dia tercatat sebagai mahasiswa perikanan. Dia bergabung dalam organisasi PALAKA, yang isinya jelong-jelong, ke gunung, ke pantai. “mbok kapan-kapan aku dijak siih! L” selorohku setiap dia update DP BBMnya. Siapa yang ngga mupeng coba, seringkali fotonya berlatarkan gunung-gunung yang tinggi, kadang hamparan air yang bergelombang?

Tetiba, dalam sebuah pesan “Minggu pagi, muncak ke  Gunung Andong. Ikut?”, tanpa pikir panjang aku langsung mengiyakan. Sekaligus menanyakan keperluan apa saja yang musti aku siapkan. Yeyeye... aku mau ndaki! Bahagia.

Ijin Ibu
Aku bingung harus bilang apa. Karena sepertinya ibuku menganggap mendaki adalah sesuatu yang tabu. Dan aku belum pernah melakukan sebelumnya. Dengan polos, “Hehe, aku arep ndaki.” Selanjutnya aku sampaikan bahwa teman-temanku biasa melakukannya. Because she knows, teman-temanku semuanya orang baik-baik (eaaa), alhamdulillah akhirnya dibolehkan.

Bismillah, Go!
Perjalanan ba’da Maghrib dengan sepeda, bagiku sesuatu yang mengerikan. Bagaimana enggak coba? Isu begal di mana-mana. Kan sekarang aku naik motor, ga kayak biasanya naik mobil. Wakaka... perjalanan aman, ga ada begal. Kami langsung menuju lapangan Pancasila. Uhuy... malam mingguan! Bertemu dengan mbak Siswa, temen mbak Muna. Ikut terbuai hiruk-pikuk lapangan Pancasila, gandengan tangan dua insan yang tengah dimabuk asmara. Hehe... Anak-anak kecil naik helicak bersama keluarganya. Diih,, ni anak kecil kok diajarin nongkrong sih?!

Bermalam di mana?
Ya, aku kira start dari rumah dini hari lalu dilanjutkan dengan pendakian. Ternyata salah! Biasanya, sebelum melakukan pendakian para pendaki menginap di Basecamp yang disiapkan oleh penduduk sekitar. Aku masih buta tentang basecamp, waktu itu. Aku asal ngikut aja. Pasrahkan saja kepada ahlinya.

“Dek, punya temen daerah sana nggak? Dari pada nginep di basecamp.” Tanya mbak Muna tiba-tiba. Mmm.... siapa ya? Aku berpikir keras. Tidak lama aku temukan nama seorang teman yang bertempat tinggal di daerah Getasan. Akupun segera menghubunginya, bolehkan jika malam itu aku menginap di rumahnya. Lalu kami bertiga segera bertolak kesana. Dan malam itu kami bermalam di sana.

Gunung Andong, aku datang!
Setelah perjalanan dini hari yang dingin dan gelap, tibalah kami di dusun Sawit, Ngablak, Magelang. Ratusan motor dan beberapa mobil terparkir di sana. Rupanya banyak pendaki pagi ini. Bakalan seru kayaknya, batinku.

1726 mdpl ketinggian gunung Andong. Aku siap! “Ya Allaaaaah.... aku mau mendaki!!” teriakku heboh ketika aku mulai melangkahkan kaki dan menyalakan senter yang ada di tangan. Masih ngerasa nggak percaya kalau hari itu, 22 Maret 2015, aku benar-benar akan mewujudkan salah satu mimpiku, mendaki gunung.

Ladang-ladang sayuran terlihat lamat-lamat karena tertutup gelap. Dari atas terlihat kilatan-kilatan cahaya. Aku heran di buatnya? “Loh, di atas ada listrik to, Mbak?” tanyaku. “Itu senter, Kakak.” Jawab mbak Muna. Setelah melewati ladang yang gelap, kami tiba pada undak-undakan tangga yang menuntun kaki kami menuju puncak gunung. Kakiku terasa berat untuk melangkah. Namun aku terus berusaha bergerak. Aku tak boleh menyerah! Aku harus bisa sampai puncak. Meski aku butuh istirahat setiap kaki bergerak sekitar 2 meter. Haha...

Korset
Hehe... mendaki gunung pakai korset. Hello.... ahaha. Yup, setahuku di gunung itu dingin. Maka aku siapkan korset untuk aku lilitkan ke perut agar tidak kedinginan. Karena pengalamanku, kalau kedinginan, efeknya perutku mules. So, hari itu ketika aku hendak mendaki gunung, aku bawa korset.
Namun apa yang terjadi? Mendaki itu sumuk banget. Haha... akhirnya di tengah pendakian aku tanggalkan jaket dan korset yang melilit tubuhku. Maklum, pendaki pemula. :D

Batu keputusasaan
Setelah berkali-kali istirahat, aku merasa sungguh tak sanggup lagi untuk melanjutkan langkah. Aku berhenti. Aku buka tasku, aku ambil satu bungkus roti yang aku siapkan sebagai bekal. Aku lapar. Semalem aku tak ikut makan bersama mbak Muna dan temannya, mbak Siska. Kaki terasa pegal hebat. Napas terengah-engah. Jantung berdenyut sangat kuat.

Aku duduk di sebuah batu besar, yang ternyata batu itu bernama Watu Gambir. Istirahat dan mengatur napas. Lalu, gigitan demi gigitan roti masuk ke dalam perut. “Aku tunggu di sini ya. Kalian naik aja.” Aku putus asa. Belum separuh perjalanan, namun rasanya aku sudah tak kuat lagi.

The Show Must Go on!
Setelah perut terisi, napas teratur, dan rasa pegal berangsur hilang, serta semangat dari kedua teman pendakian, aku lanjutkan petualangan ini. Hari semakin terang. Matahari mulai menampakkan diri. Ya, kami tak bisa menikmati sunrise dari puncak gunung. Langkah demi langkah menyusuri jalan setapak yang menanjak. Puncak gunung makin jelas kelihatan. Semangat untuk sampai kesana menyala-nyala. Sebentar lagi sampai! “Pokoknya aku nanti sampai atas mau teriak.” Ucapku kemudian.


Yeay, aku berhasil!!



Allahu Akbar! Laa haula walaa quwwata illa billah! Alhamdulillah akhirnya sampai juga aku pada puncak gunung Andong. Seolah berada di negeri atas awan. Hamparan hijau ladang sayuran terbentang. Gunung-gunung berjajar kokoh. Subhaanallaah!! Indah nian ciptaanNya. Rasa capek dan pegal kaki seolah tak pernah ada. Hilang oleh ketakjuban. Bener, perjalanan yang kadang terasa sulit, jika kita bener-bener berusaha untuk melaluinya, pasti akan berbuah kenikmatan yang sungguh luar biasa. Pendakian ini memberiku pelajaran.
Lalu, Speechless! Dan ngga jadi teriak, karena ramainya puncak melebihi pasar. Haha...

AKU BAHAGIA!!



Tidak ada komentar:

Posting Komentar