Rabu, 11 Maret 2015

Cerita Mahasiswa dan Perjalanan Hidupnya

Aku tertegun mendengarnya bercerita. Mahasiswa yang masih duduk di semester dua ini punya perjalanan hidup yang luar bisa.

Berawal dari sebuah pertanyaan tentang rokok, yang kemudian menjalar ke miras. 
“ada yang pernah nyoba-nyoba minuman keras?” tanyaku kepada mahasiswa di kelas. 
Celoteh ringan keluar dari mulut-mulut mereka. “Oh, saya sering, Bu, es batu.” Tawapun sedikit meledak, mengindikasikan aura keakraban yang terjalin antara aku dan mahasiswa.
“Pernah mbuat, tapi nggak pernah minum,” satu suara tiba-tiba menyusup di antara keriuhan kelas. Maksudnya? Aku terhenyak. “Gimana, Mas?” tanyaku kemudian, setelah aku mengetahui sumber suara itu berasal. 

Lalu ia pun berkisah perjalanan hidupnya sebelum melanjutkan kuliah di kampus kami.

Tahun 2010, ia lulus dari sekolah menengah atas. Melanjutkan ke sekolah perhotelan selama satu tahun. Setelah lulus, ia bekerja di bar pada sebuah hotel. Kebiasaannya adalah meladeni para peminum. Namun, ia bilang, “Tapi saya ngga pernah minum kok, Bu.” Ia terpaksa bekerja di tempat tersebut, tuntutan ekonomi. Bagaimanapun, ia harus bekerja sampai kondisi ekonomi keluarga yang tidak stabil. Ntah masalah keluarganya apa, namun aku mencoba untuk memaklumi. Toh, tidak semua keluarga mempunyai kehidupan ekonomi yang selalu baik, kan?

Karena rasa takut dan tidak nyamannya bekerja di tempat tersebut, ia mencari pekerjaan di tempat lain. Dapatlah pekerjaan di Bandung. Di hotel juga. Awalnya ia merasa lebih beruntung. Namun ternyata, di sana ia menyaksikan praktik-praktik tidak halal. Rasa takut pun muncul kembali.

Ia pun pindah kerja pada sebuah hotel di kota Jogjakarta. Aku lupa di bagian apa ia bekerja. Yang intinya di sana ia juga menemukan praktik-praktik tidak halal. Yang menimbulkan perasaan yang sama kembali muncul. Dan akhirnya, ia berpikir, sepertinya aku harus keluar dari perhotelan.

Niatnya Allah dengar dan kabulkan, ia benar-benar berhenti dari dunia perhotelan. Allah memberinya jalan berbisnis. Karena kondisi ekonomi keluarga saat itu juga sudah mulai stabil. Dan ia juga berniat untuk belajar agama. Alhamdulillah kini ia belajar di kampus kami, yang nota benenya adalah kampus Islam.

Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari hal-hal yang ia haramkan. Semoga apa yang kita tempuh senantiasa berada di jalanNya. Bukan jalan yang Ia benci. Dan semoga Allah berikan keberkahan dalam harta kita. Aamiin...


Tidak ada komentar:

Posting Komentar