Rabu, 11 Maret 2015

Begal dan Copet

 Yang sedang marak di kota Salatiga tercinta saat ini adalah; BEGAL dan COPET! Ngeri binggo, kan??

Begal. Salah satu titik rawannya di daerah gardu induk Bringin, Domas. Jalan ke rumahku tuuh. Hehe… “Aku kemaren pulang aman-aman aja.” Komentarku mendengar berita-berita yang beredar. “Yaelah, kamu kan naek angkot.” Sahut temanku. Ohoo… ternyata target sasarannya adalah pengendara motor. Untuk berita korban sih belum tau, tapi katanya ada seorang perempuan ditemukan di kali, sudah tak bernyawa. Kejam! Jahat!


Kemudian aku merasa aman, karena aku bukan pengendara motor, melainkan pemakai jasa angkutan umum. Kemana-mana naik mobil doooong….! Wakaka
Namun, baru sejenak aku merasa aman, aku dibuat ngeri oleh kejadian di angkot, jurusan Sruwen. Ada seorang bapak kutaksir umurnya sekitar 45an, berjaket jeans, kaca mata hitam. Dandanannya necis tapi serem. Dan tambah serem setelah kutahu dia punya niat jahat.

Perjalanan dari kampus menuju asrama. Aku duduk di pinggir jendela. Seorang Ibu duduk di sampingku dengan belanjaannya. Ketika perjalanan sampai di daerah Bener masuk seorang penumpang serem tadi. Duduklah si penumpang serem di kursi dekat pintu. Lalu menunjuk ke sampingku. Ngapain, sih, si bapak? Batinku. “Itu, itu,” katanya. Oh, si serem minta aku bukain jendela. Dalam keadaan bingung aku buka jendela, sedikit. Lha iya to, dia duduknya di mana, kok minta aku buka jendela sampingku? Lagian di sampingnya pintu angkot terbuka lebar. Aneh!

Si serem akhirnya turun di jalan Nobo. Tanda tanyasemakin besar. Apa maksudnya coba? Beneran aku nggak ngeh. Cuman, semenjak melihat gelagatnya yang aneh, aku takut dan khawatir. Lantas aku berdzikir. Mohon pertolongan pada Allah. Hehe… Oh no! masa dzikir aja harus kepaksa gitu sih? Astaghfirullah…

Baru setelah si serem turun, si ibu yang duduk di sampingku cerita. Intinya sih, si serem tadi mau ambil dompet si ibu. Alhamdulillahnya si ibu tadi sadar, segera menarik dompetnya. Daaan… si serem pun gagal melakukan aksinya. Alhamdulillah….

Kalau dirunut kedua masalah di atas.. maka dapat disimpulkan, keduanya punya motif yang sama. UANG! Lantas aku bertanya, SESULIT APA, SIH, KEHIDUPAN MEREKA?? Sehingga menghalalkan segala cara untuk mendapatkan ‘uang’?
Bukankah Allah telah berfirman dalam Kitabnya:

لا يكلف الله نفسا إلا وسعها.. (البقرة: 286)
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya”. (QS. Al-Baqarah: 286)


Ayat di atas sudah cukup jelas, kan? Allah tidak akan membebani hambaNya melebihi kesanggupan yang mereka punya. Pasti ada jalan, yang tentunya baik, untuk menyelesaikan masalah mereka. Tak perlu menggunakan cara-cara yang haram. Yang merugikan orang lain. Apakah mereka tidak memikirkan perasaan korbannya? Apa mereka tidak terhantui oleh perbuatan-perbuatan itu? Sebenarnya untuk siapa sih mereka melakukan semua itu? Untuk keluarganya? Ooh… tega sekali mereka memberi makan bahkan membiayai pendidikan keluarganya dengan harta yang haram.


Pada akhirnya...
Aku hanya bisa berdo’a,
Semoga Allah memberikan kekuatan dan kesabaran kepada mereka dalam menghadapi segala ujian dan cobaan dariMu. Jauhkan mereka dari putus asa. Bimbing mereka agar tetap dalam jalanMu. Aamiin....


Tidak ada komentar:

Posting Komentar