Sabtu, 14 Maret 2015

Bayang-Bayang Kematian

Pagi itu hari Rabu. Tak ada jadwal ngawas UTS. Tentunya ini momen berharga buatku. Aku tak ingin menyia-nyiakan kelonggaran waktu ini. Di hadapanku setrika panas bergerak maju-mundur, melindas pakaian yang aku gelar. Tumpukan pakaian acak-acakan teronggok di sebelah kananku mengantri menanti belaian hangat sang setrika, dan beberapa yang lain sudah tersusun rapi dengan kombinasi warna yang beragam.

Mbak Anis sedang bersiap ke sekolah. Tiba-tiba aku berseloroh, “Yeay, ke Solo...!” Solo? Kenapa? Yes, you all have to know, I love reading so much. So? 2 pekan ini digelar Moslem Fair di Solo. Dan setiap even ini digelar, pasti juga digelar bazar buku, meski tidak seramai ketika IBF. Namun, aku tetap saja bahagia menyambutnya. Karena bakal bisa dapetin buku-buku dengan harga diskon. Haha...

“Kok kamu seneng banget sih?!” mbak Anis menyahut. Deg, akupun terkesiap. Kaget dengan kata-kata yang baru saja kudengar. Iya ya, kenapa aku seneng banget? Jangan-jangan aku akan menjemput mautku, seketika kata-kata itu berkelebat di pikiranku. Aku bergeming. Rasa takut menerkam. Astaghfirullah. Ampuni dosa-dosaku ya Allah. Aku belum siap ya Allaah..

Sebenarnya, kebahagiaanku sangat wajar. Aku hobi baca. Di sana aku bisa beli buku dengan harga murah. Sedikit menghirup udara luar. Oh iya, stok novelku sudah habis terbaca! Aku butuh stok baru. Alasan-alasan ini sudah cukup mewakili kebahagianku. Entahlah...

“Aku pengen meninggal hari Jumat, ah.” Celetukku kemudian. “Bener ngga sih, Mbak, kalau meninggal hari Jumat tu bebas dari siksa kubur?” tanyaku ketika aku teringat sebuah hadits tentang Allah akan membebaskan hambaNya dari siksa kubur bagi yang meninggal pada hari Jumat.

“Mboh, belum tau.” Jawabnya menyerah. “Lha yang bukan orang Islam itu?” lanjutnya. Kami sama-sama belum mengetahui tafsir dari hadits tersebut. Kamipun tak berani sok berpendapat mengenai tafsir dan penjelasannya. Semoga Allah memberi kesempatan kepada kami untuk mempelajarinya.

“Semoga aja iya. Kemarin mbah Jimin (guru ngaji di kampung) meninggal hari Jumat.” Mbah Jimin adalah sosok guru ngaji yang sangat berjasa, menurutku. Belum lama ini beliau mendahului kita menghadap Sang Kuasa. Dulu, semua anak sekitar musholla di dekat rumah simbah, termasuk aku, belajar ngaji kepada beliau. Dengan sabar beliau menuntun anak-anak kecil yang masih banyak polah itu melafadzkan bacaan-bacaan sholat dan surat-surat pendek.

“Trus Raja Saudi kemarin juga meninggal hari Jumat.” Ketika ku teringat Raja Abdullah sang khodimul haromain yang juga belum lama ini wafat. “Semoga aja iya, deh,” lanjutku kemudian. “Soalnya bapakku meninggalnya juga pas hari Jumat. Hehe...” Semoga Allah mengampuni dosa-dosa beliau dan merahmatinya. Aamiin...

“Mbak Anis,,,” aku mengagetkannya yang masih bersiap ke sekolah. “Ngga jadi ding.” Suaraku mendadak parau. Pertanyaan itu akhirnya hanya tersimpan, tak berani aku luncurkan. Sebenernya aku ingin bertanya, kalau aku mati, Mbak Anis sedih gak? Nangis gak? Tercekat kengerian yang merambat. Mataku kabur oleh air yang menggenang hendak keluar.

Sungguh ngeri membayangkan kematian. Seketika siapapun yang aku kenal berkelebat di depan mata. Terbayang wajah ibu yang pasti sangat merasa terpukul dengan kepergian putrinya. Saudara-saudara, teman-teman yang entah mereka peduli atau tidak dengan kepergianku. Akan bersedihkah mereka, atau malah bahagia? Dan yang paling membuatku ngeri, ketika aku me’raba’ diri. Menyadari.  Dosaku yang terlalu banyak yang tak hanya menggunung tinggi, namun mungkin meluas bumi atau bahkan lebih. Aku belum siap!

Bayang kematian. Aku seka air mata yang meleleh di sisi mata. Menyadari kekerdilan dan kehinaan diri. Sekali lagi, aku belum siap, Ya Allah! Dan,

Allah mengingatkan kita. Setiap kita akan mati. Kapan? Di mana? Hanya Allah yang mengetahui kapan dan di mana ia akan datang. Kapanpun, di manapun kita berada, kematian mengintai kita. Tak ada yang lain yang musti kita lakukan, selain mempersiapkan diri menyambutnya. Karena “Orang bijak adalah orang yang beramal untuk kehidupan akhiratnya” begitu kata Baginda Nabi dalam haditsnya yang mulia. Agar ia datang ketika kita dalam keadaan kita yang terbaik.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar