Minggu, 22 Februari 2015

Sebelum Kuliah, Ngaji Yuuuk...

Siang ini saya dan para dosen LB IAIN Salatiga -masih agak gagap bilang IAIN, karena sudah lekat dengan STAIN. Okelah.. untuk perubahan yang lebih baik. :D- mendapatkan undangan Rakor (Rapat Koordinasi). Di kampus 2 yang letaknya lumayan jauh dari jalan raya. Hmm...


Acara seperti ini bagiku bukan sekedar rapat biasa, membahas apa-apa yang musti dikerjakan para dosen untuk semester selanjutnya dan mungkin ada beberapa informasi baru yang memang musti civitas akademika ketahui. Itu sudah lumrah. Namun bagiku, ada sesuatu yang beda. Apa? Rakor menjadi semacam reuni kecil yang mempertemukan beberapa teman seperjuangan semasa menjadi dosen kontrak selama kurang lebih satu tahun masa jabatan. Kami menyebutnya TIM 28. Diambil dari jumlah kami yang 28 orang.

Kebersamaan yang terjalin selama dua semester itu sedikit banyak memberi kesan dalam perjalanan kami. Perjumpaan yang hampir setiap hari, dihadapkan dalam masalah serupa, duduk bersama dalam obrolan-obrolan ringan, sampai dengan perjalanan dalam sebuah bus dengan hentakan musik yang sama kami lalui bersama. Dan setelah kontrak itu berakhir, kegiatan-kegiatan serupa tak pernah kami lalui bersama lagi. Sehingga, momen singkat, rakor, ini menjadi momen yang lumayan pas untuk kembali menyatukan rasa, merasakan kedekatan, dengan kalimat tanya yang klise “sekarang sibuk di mana?”

Rakor. Ada sesuatu yang menarik kali ini. Di setiap awal perkuliahan Dosen diminta untuk membimbing para mahasiswa menghafal juz ‘Amma. Memang kedengarannya menggelitik. Masa mahasiswa masih ngafalin surat-surat pendek gitu?

Tapi, penting kita untuk bersikap realistis. Banyak kita temui orang yang hidup di lingkungan mayoritas berpenduduk Islam, tapi  ternyata untuk sekedar mengucapkan huruf hijaiyah yang jumlahnya hanya 28 saja lidahnya masih kelipet-lipet. Ya, kan? Kalau tidak percaya, cek gih tetangga kita, ngajinya udah pada bener belum? Dan itu ternyata terjadi pada beberapa lulusan Universitas-universitas yang notabenenya adalah universitas Islam, termasuk STAIN Salatiga atau IAIN Salatiga.

Naah, [mungkin] berawal dari sinilah IAIN Salatiga mengambil kebijakan. Agar mahasiswa mampu mengaji dengan bacaan yang baik dan benar. Harapannya tidak ada lagi alumni atau lulusan kampus IAIN Salatiga yang tidak bisa membaca Al-Quran.


 Allahumma waffiqnaa...
Semoga sedikit yang kami lakukan untuk Islam ini Engkau ridhoi dan mudahkan. Aamiin...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar