Selasa, 17 November 2015

Kala Kau Menginginkannya

Suatu siang, putri kecil berjalan-jalan kepasar bersama sang ibu. Sebuah etalase toko memamerkan sebuah boneka cantik. Ia mengamatinya dengan lekat. Ia pun minta ijin kepada sang ibu untuk melihat boneka dengan jarak yang lebih dekat. Sang ibu tahu putri kecilnya menginginkan boneka itu. Sang ibu pun membiarkan putrinya mendekat. Ia melihat harga yang sangat tinggi tertera di bagian belakang boneka. Ia hendak merajuk pada sang ibu agar mau membelikannya untuknya, namun ia urungkan. Ia tahu dan sadar, ibunya tak mungkin mau membelikannya.

Lalu, sang anak memilih untuk memendam keinginannya. Ia kumpulkan uang saku yang ia terima dari orang tuanya. Untuk membeli boneka itu.

Sering kali ia melewati toko itu, memastikan bahwa boneka itu masih ada. Dan ia akan merasa lega. Harapan untuk memiliki boneka masih terbuka lebar. Ya, karena ia tak berani meminta kepada pemilik toko agar menyimpan boneka itu untuknya. Ia tak punya jaminan apa-apa. Dan juga tak tahu uang seharga boneka itu kapan bisa terkumpul.

* *
Layaknya seorang yang dirundung cinta. Ia sangat menginginkan seseorang itu menjadi pendampingnya. Ada yang memilih diam, tidak menyampaikan cintanya. Namun ia diam-diam menyebutnya dalam do'a, dalam sujud panjangnya. Terus berusaha memperbaiki diri. Berharap Sang Pemilik akan memberikan seseorang itu kepadanya.

Tentang bagaimana akhirnya, —apakah do'anya terkabul atau tidak?— Yang Di Ataslah yang menentukan, Sang Maha Mencintai. Jika iya, maka ia akan mendapatkan seseorang yang ia idamkan. Jika tidak, ia telah berusaha menjadi baik dan menjaga kesuciannya. Insya Allah hal itu akan mendapat ganjaran dari Allah.

Pun cerita di atas. Apakah akhirnya boneka itu terbeli ataukah terlanjur dibeli orang lain. Putri kecil itu telah mengumpulkan uang yang bisa ia gunakan untuk membeli boneka lain atau ia gunakan untuk hal lain yang lebih bermanfaat.

Yakinlah, bahwa taqdir Allah adalah yang terbaik.

Senin, 02 November 2015

"Good Morning" from Jekardah

Liburan seminggu. Dua hari, Senin-Selasa ngampus seperti biasa. Lalu, bagaimana dengan lima hari yang lain? Karena terbiasa sibuk (iyain aja lah ;) ), jadi kalau ada waktu luang bawaannya bingung, mau ngapain??!

Ya, untuk melengkapi liburan yang rumpang, kayaknya jenguk adek-adek yang sedang di rantau bakalan seru. Jenguk adek-adek? Hmm... jalan-jalan sih niat utamanya. “Ayo, Mbak, kesini..” kata adekku yang aku sampaikan bahwa aku mau kesana. Tiket kereta pun segera di-booking.

Selasa, 08 September 2015

Aku Lupa Jalan Pulang

Selepas kuliah pagi itu, tubuhku lesu. Mata ngantuk tak tertahankan. Semalam insomnia akut. Sepertinya akibat porsi tidur siang yang berlebihan, lagi. Mata sulit terpejam hingga jam menunjukkan pukul 12 malam. Melewati malam bersama sunyi. Sendiri. Ditambah pagi tak sempat sarapan. Sempurna!

Senin, 31 Agustus 2015

Sarapan Bagiku

Senin pagi, bukannya aku tak semangat hari itu. Pagi-pagi sekali aku sudah bersiap menuju kampus. Oh ya, temen-temen harus tau, kelasku di semester ini dimulai jam 06.00. Jam enam, boy! Bisa bayangin, jam segitu ayam pun belum beranjak dari kandangnya. Sedangkan aku? Di saat ayam-bebek-sapi-kambing-kuda-kerbau-bahkan semut masih merem, dan mungkin juga kalian.  aku harus sudah stand by di kelas. ‘Bercengkerama’ bersama para mahasiswa-mahasiswi yang masih polos. Tentu taraf kepolosannya beda dengan anak SD, lah.

Kamis, 06 Agustus 2015

Penantian

Sejatinya, hidup ini sebuah penantian. Penantian kecil maupun penantian terbesar. Penantian besar, kehidupan di akhirat; surga atau neraka. 

Penantian kecil. Penantian kecil, berbagai keinginan yang dinantikan selama hidup di dunia yang sementara ini. Menantikan kelulusan bagi penuntut ilmu, kemudian menantikan pekerjaan yang menyejahterakan. Menantikan datangnya jodoh bagi pemuda. Menantikan kelahiran buah hati bagi pasangan suami istri, kemudian menantikan tumbuh kembang buah hatinya menjadi dewasa, dan sebagainya.


Begitulah hidup kita di dunia. Menanti, menanti, dan menanti. Yang ending-nya nanti adalah kematian.

Menanti. Menunggu. Sesuatu yang membosankan, bukan? Kata sebagian orang begitu. Lalu bagaimana dengan kita? Apakah serupa dengan sebagian orang di atas? Merupakan sesuatu yang menjemukan? Atau bahkan menjengkelkan?

Semua tergantung pada kita. Apakah kita akan dibuatnya bosan, jemu, jengkel atau malah kita menikmatinya. Jika selama kita menanti, kita do nothing, pasti kita akan bosan dibuatnya. Namun, jika kita mengisinya dengan hal-hal yang bermanfaat, in syaa Allah rasa bosan, jemu, jengkel tak akan berani menampakkan diri ke hadapan kita. Karena apa? Dengan kita mengerjakan hal-hal itu kita tidak akan merasa menunggu. Tiba-tiba saja yang yang kita nantikan tadi datang. Karena memang penantian-penantian itu adalah fase-fase yang akan kita lewati.

Maksimalkan waktu (penantian) kita dengan kebaikan. Agar masa depan kita tak penuh dengan penyesalan. :)

Rabu, 24 Juni 2015

Seorang yang benar cinta, tak pantas berkata ‘cinta tak harus memiliki’ tanpa sebelumnya berusaha. Bila ada yang begitu, ia hanya malas saja

- Tia Setiawati

Selasa, 12 Mei 2015

Solo, We are Coming: Angkot dan Pisang Rebus

Setelah kejadian yang menimpa kami di pojok lapangan Pancasila, kami, terutama aku, takut. Bukan berarti penakut lho ya, tapi kami memang benar-benar merasa bersalah. Beda, kan? Hehehe

Ketika ada angkot melintas, aku segera menyetopnya. Aku ganti naik angkot. Meninggalkan ukhty Ari. Angkot itu membawaku ke pertigaan Kalinongko, untuk selanjutnya naik angkot jurusan Sruwen. Ketemu ukhty Ari di Nu*is, karena dia ada urusan di sana, sekalian nitip motor. Sampailah aku di pertigaan Kalinongko. Aku minta pak sopir untuk menghentikan mobilnya. Aku rogoh saku mengambil uang untuk bayar angkot. Rp 4.000,- aku serahkan ke pak sopir angkot, kembali Rp 1.000,-.

Minggu, 10 Mei 2015

Solo, We are Coming: Terdakwa

Sebuah kesyukuran bagiku, Allah hadirkan akhwat cantik nan shalihah dalam hidupku. #eaaa.... Sahabat baruku, Arifaturrohmaniah namanya. Biasa aku panggil dengan Ukhty Ari. Sahabat yang sudi mendengarkan celotehku tentang anak-anak shalihah di tempat kami belajar bersama. Mereka yang unik. Mereka anak-anak yang hebat dan juga nggemesinFix, kami biasa ghibah. Jangan ditiru!! Hihihi

Kamis, 23 April 2015

Hutang Bikin Semangat Hidup (?)

“Tak punya hutang, hidup tak semangat.”

Setujukah kau dengan pernyataan di atas? Sebagian orang mungkin langsung mengiyakan. Dengan punya hutang, yang berarti punya tanggungan, maka semangat kerja pun akan meningkat. Ya, dikarenakan tuntutan membayar hutang setiap bulannya agar tak sampai jatuh tempo. Okelah kalau kau berpendapat seperti itu. It’s up to you! ;)

Rabu, 08 April 2015

Bukan Sepatu Abul Qosim


Everything is special!

Begitu juga sepatu di atas. Sepatu itu kalau tidak salah tiga tahunan yang lalu saya membelinya. Makanya bentuknya sudah tak keruan gitu. Hehe..

Senin, 30 Maret 2015

Penakhlukan Gunung Andong

Tiap kali lihat foto orang sedang berada di atas gunung, bawaannya envy. Huhh! Aku juga pengeeeeeennn... lagi-lagi kata-kata itu hanya tersesak di dada. Si kakak sepupu, mbak Muna, hobinya naik gunung sejak dia tercatat sebagai mahasiswa perikanan. Dia bergabung dalam organisasi PALAKA, yang isinya jelong-jelong, ke gunung, ke pantai. “mbok kapan-kapan aku dijak siih! L” selorohku setiap dia update DP BBMnya. Siapa yang ngga mupeng coba, seringkali fotonya berlatarkan gunung-gunung yang tinggi, kadang hamparan air yang bergelombang?

Rabu, 18 Maret 2015

Pesona Gua Rong Nan Menawan

“Kakak, aku butuh piknik.”

Begitu bunyi messenger yang aku layangkan ke mbak Muna beberapa hari yang lalu. Aktifitas sekolah, asrama, dan kampus yang terus berputar kadang membuatku capek, badan dan pikiran. Penat. Sepertinya aku perlu lari menghindar kemudian sembunyi dari kejarannya. Bukanku ingin lari dari masalah dan tanggung jawab. Aku hanya butuh rehat sejenak. Melepas semua beban di pundak, sebentar saja.

Sabtu, 14 Maret 2015

Bayang-Bayang Kematian

Pagi itu hari Rabu. Tak ada jadwal ngawas UTS. Tentunya ini momen berharga buatku. Aku tak ingin menyia-nyiakan kelonggaran waktu ini. Di hadapanku setrika panas bergerak maju-mundur, melindas pakaian yang aku gelar. Tumpukan pakaian acak-acakan teronggok di sebelah kananku mengantri menanti belaian hangat sang setrika, dan beberapa yang lain sudah tersusun rapi dengan kombinasi warna yang beragam.

Rabu, 11 Maret 2015

Cerita Mahasiswa dan Perjalanan Hidupnya

Aku tertegun mendengarnya bercerita. Mahasiswa yang masih duduk di semester dua ini punya perjalanan hidup yang luar bisa.

Berawal dari sebuah pertanyaan tentang rokok, yang kemudian menjalar ke miras. 
“ada yang pernah nyoba-nyoba minuman keras?” tanyaku kepada mahasiswa di kelas. 
Celoteh ringan keluar dari mulut-mulut mereka. “Oh, saya sering, Bu, es batu.” Tawapun sedikit meledak, mengindikasikan aura keakraban yang terjalin antara aku dan mahasiswa.
“Pernah mbuat, tapi nggak pernah minum,” satu suara tiba-tiba menyusup di antara keriuhan kelas. Maksudnya? Aku terhenyak. “Gimana, Mas?” tanyaku kemudian, setelah aku mengetahui sumber suara itu berasal. 

Lalu ia pun berkisah perjalanan hidupnya sebelum melanjutkan kuliah di kampus kami.

Tahun 2010, ia lulus dari sekolah menengah atas. Melanjutkan ke sekolah perhotelan selama satu tahun. Setelah lulus, ia bekerja di bar pada sebuah hotel. Kebiasaannya adalah meladeni para peminum. Namun, ia bilang, “Tapi saya ngga pernah minum kok, Bu.” Ia terpaksa bekerja di tempat tersebut, tuntutan ekonomi. Bagaimanapun, ia harus bekerja sampai kondisi ekonomi keluarga yang tidak stabil. Ntah masalah keluarganya apa, namun aku mencoba untuk memaklumi. Toh, tidak semua keluarga mempunyai kehidupan ekonomi yang selalu baik, kan?

Karena rasa takut dan tidak nyamannya bekerja di tempat tersebut, ia mencari pekerjaan di tempat lain. Dapatlah pekerjaan di Bandung. Di hotel juga. Awalnya ia merasa lebih beruntung. Namun ternyata, di sana ia menyaksikan praktik-praktik tidak halal. Rasa takut pun muncul kembali.

Ia pun pindah kerja pada sebuah hotel di kota Jogjakarta. Aku lupa di bagian apa ia bekerja. Yang intinya di sana ia juga menemukan praktik-praktik tidak halal. Yang menimbulkan perasaan yang sama kembali muncul. Dan akhirnya, ia berpikir, sepertinya aku harus keluar dari perhotelan.

Niatnya Allah dengar dan kabulkan, ia benar-benar berhenti dari dunia perhotelan. Allah memberinya jalan berbisnis. Karena kondisi ekonomi keluarga saat itu juga sudah mulai stabil. Dan ia juga berniat untuk belajar agama. Alhamdulillah kini ia belajar di kampus kami, yang nota benenya adalah kampus Islam.

Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari hal-hal yang ia haramkan. Semoga apa yang kita tempuh senantiasa berada di jalanNya. Bukan jalan yang Ia benci. Dan semoga Allah berikan keberkahan dalam harta kita. Aamiin...


Begal dan Copet

 Yang sedang marak di kota Salatiga tercinta saat ini adalah; BEGAL dan COPET! Ngeri binggo, kan??

Begal. Salah satu titik rawannya di daerah gardu induk Bringin, Domas. Jalan ke rumahku tuuh. Hehe… “Aku kemaren pulang aman-aman aja.” Komentarku mendengar berita-berita yang beredar. “Yaelah, kamu kan naek angkot.” Sahut temanku. Ohoo… ternyata target sasarannya adalah pengendara motor. Untuk berita korban sih belum tau, tapi katanya ada seorang perempuan ditemukan di kali, sudah tak bernyawa. Kejam! Jahat!


Senin, 02 Maret 2015

Tukang Sayur dan Hadiah Kerudung

Hari Ahad. Pagi-pagi aku duduk di ruang tamu bersama kedua saudara, Niam dan Shifa. Menyaksikan hilir mudik para pejalan yang melintasi jalan depan rumah dari balik kaca riben. Para pedagang sayur bergantian. Berhenti pada tempat-tempat stategis, kemudian para ibu mendatanginya. Biasanya di jalan belokan depan rumahku.

Kamis, 26 Februari 2015

Hari Jum'at, Kiamat

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa, hari Kiamat akan terjadi pada hari Jum’at. Tentu ini bukan ramalan, namun ini berasal dari hadits Nabi. Hadits tersebut berbunyi:
خير يوم طلعت عليه الشمس يوم الجمعة، فيه خُلق آدم وفيه أُدخل الجنة، وفيه أُخرج منها، ولا تقوم الساعة إلا في يوم الجمعة. (رواه مسلم)

Senin, 23 Februari 2015

"Mbak Ini Tetangga Saya Ternyata"

Senin pagi, 23 Februari 2015. Kegiatan perkuliahan kembali dimulai. Kini tak bisa lagi ku berleha-leha seperti kemarin-kemarin. Tak ada lagi hari libur. Bahkan, setiap Senin dan Selasa aku musti ngampus pagi-pagi sekali. Jadual pagi, jam 07.00, membuatku berjejal bersama para siswa, pedagang, mahasiswa, dan macam-macam profesi lainnya. Aku berusaha menikmatinya, meski tak jarang gerutu terlontar dari mulutku. Manusia!

Minggu, 22 Februari 2015

Sebelum Kuliah, Ngaji Yuuuk...

Siang ini saya dan para dosen LB IAIN Salatiga -masih agak gagap bilang IAIN, karena sudah lekat dengan STAIN. Okelah.. untuk perubahan yang lebih baik. :D- mendapatkan undangan Rakor (Rapat Koordinasi). Di kampus 2 yang letaknya lumayan jauh dari jalan raya. Hmm...


Jumat, 20 Februari 2015

BELAJAR!!!

Belajar. Menuntut ilmu. Salah satu hal yang diperintahkan Allah kepada para hamba-Nya melalui hadits Rasul-Nya yang mulia. Bukankah apapun yang disampaikan oleh Baginda Rasul berasal dari Allah, wahyu? Semua yang beliau sampaikan adalah kebenaran, sehingga karena kepercayaannya beliau mendapat gelar Al-Amin. Jadi tak perlu lagi menyangsikan keabsahan hadits beliau.


Kamis, 19 Februari 2015

Galau, Surat Yusuf Obatnya

Ditemani lantunan Surat Yusuf syeikh Misyari Rasyid yang merdu. Dengan mata yang masih terus berpenjar. Aku ingin sedikit berbagi. Agar tak selalu cerita geje dan konyol yang ada di blog ini. Hehe... 


Insomnia

Susah tidur. Rasanya kata insomnia tak ada dalam kamusku. Namun tiba-tiba dia menjejal di antara kosakata-kosakata yang telah tersimpan. Sejak kecil aku terbiasa tidur awal. Karena terbiasa ngga belajar. Haha... sekarang, di antara teman-teman sekamar, biasanya akulah yang paling awal menuju alam mimpi. Kalau ini mungkin karena ke-selo-anku dibanding teman-teman yang lain.

Rabu, 18 Februari 2015

One Day in Jogja

Lama kaki ini tak menapak di tanah Jogja. Kota yang dengan keistimewaannya memberikan kesan dalam hidupku. Dulu, aku sambangi kota ini setiap minggunya. Setiap akhir pekan, kalau tidak sedang malas. Hehe... Studi lanjut yang hingga saat ini, entah sampai kapan akan berujung pada sebuah selebrasi menyandang baju kurung warna hitam dan tak ketinggalan topi lebarnya, wisuda.


Sabtu, 14 Februari 2015

Aku dan Valentine Day

Kali ini aku tidak akan membahas apa itu hari valentin atau bagaimana hukumnya dalam Islam. Untuk mengenai itu, klik saja di sini 
Tanggal 14 Februari ini katanya diperingati sebagai Hari Valentin, tiba-tiba aku ingat kejadian di masa silam. Ketika aku sedang duduk di bangku MTs. Apakah aku merayakannya bersama pacarku? Ssst...

Kamis, 12 Februari 2015

Am I Kemayu??

Pagi ini Dienan dan Nadhif (div. Kebersihan dan kesehatan) mengetuk pintu kamar. 
"Ada apa?" Tanyaku. 
"Kita mau jalan-jalan ke Kembangsari. Lewat belakang situ ya, Us." Terang Dienan sambil jarinya menunjuk route arah perjalanan.

Rabu, 11 Februari 2015

Solo, 10 Februari 2015

Semalam, tiba-tiba Kantil, begitu panggilan akrabnya, nge-chat via WhatsApp. Dia bilang, besok (hari ini) mau ke Solo. Ke Gramedia dan Togamas. “Mau ikut?” tanyanya. Mmm... menggiurkan! Pokoknya apapun yang berhubungan dengan buku, aku selalu interested.
Setelah dipikir-pikir, iyain aja ah. Kebetulan hari Selasa saat ini free. Perkuliahan semester genap di kampus baru dimulai besok tanggal 23 Februari. Nah, daripada nganggur di asrama atau cuma luntang-lantung di  sekolah, jalan-jalan ke Solo sepertinya akan lebih baik.

Jumat, 06 Februari 2015

Orang-orangan

Sore itu, setelah hujan mengguyur kampungku. Aku bersama Shifa main ke kebun. Di kebun itu ada kolam. Dulunya tak difungsikan, tapi kini kolam itu difungsikan untuk ternak lele. Akupun antusias untuk mendatanginya. Karena aku pikir, nanti aku bisa mancing lele di sana. Memang aku tak membawa apa-apa ketika berangkat kesana. Liat kondisi dulu lah.

Senin, 02 Februari 2015

No More Galau!


Sudah tahun 2015 aja nih. Umur kian hari kian bertambah (baca: semakin tua). Tapi, kenapa jodoh tak kunjung tiba? Galau? Iya. Wajar sih. Melihat teman-teman satu persatu mengakhiri masa lajangnya, bahkan sudah menggendong baby. Rasa iri itu pasti ada. Apalagi kalau ada yang tanya, "kapan nyusul?" Hmm... Dan itu manusiawi.

Sabtu, 03 Januari 2015

Liburan: Semarang Day 3

Rencana awal, pagi di hari ketiga aku akan kembali ke Salatiga. Tapi, karena belas kasihan kakak, dia mengajakku kembali meniti jalanan kota Semarang. Mengajakku menikmati hiruk-pikuk kota Semarang.