Minggu, 23 November 2014

Kembali pada Masa Meramu

Batuk. Pun ada manfaatnya, mengeluarkan virus, bakteri yang mengganggu saluran pernafasan kita Tapi kalau itu menyerang berhari-hari, tetap saja mengganggu. Bukan hanya mengganggu, bahkan menyiksa.

Penyakit yang selama seminggu menemaniku ini, awalnya aku kehujanan. Sangat mungkin waktu itu kekebalan tubuhku sedang turun. Sehingga tidak sanggup menghalau dan mengalahkan serangan virus-virus batuk. Ya, perjalanan dari Tlatar berada di bak truk yang anginnya wush wush ditambah rerintik hujan yang sempat beberapa kali menebal, membuat badanku limbung. Dua hari kepala pusing, badan agak panas.

Namun di hari ketiga, tenggorokan mulai terasa aneh, terasa sakit ketika menelan ludah. Lalu suara serak. Lalu? Ya, batuk! Sampai-sampai aku bolos ke kampus. Hihi.. ✌
"Ibu, sekarang aku batuk." Selorohku kepada dokter yang bertugas di poliklinik. Sang dokter menyarankan untuk minum air hangat, dan konsumsi makanan bervitamin C. Aku pun mengiyakan saran beliau dan berhusnudzon, paling nanti juga segera sembuh.

Aku memang berusaha menghindari obat-obatan dari dokter. Why? Karena aku susah minum obat berwujud pil atau kapsul tanpa pisang. Apalagi dengan air, airnya tertelan, obat masih tertinggal di mulut, dan hoek.

Namun, sudah berhari-hari batuk tak kunjung reda. Tengah malam terbangun terbatuk-batuk. Istirahat pun terkurangi porsinya. Aktifitas terganggu, hak anak-anak tak terpenuhi (kayak udah berkeluarga ajah. Hehe). Aku putuskan tadi malam untuk meminta obat di poliklinik. Sayang, poliklinik tutup.
Aku merasa, batukku harus segera diobati. Tidak betah berlama-lama bersama batuk. Tenggorokan gatal. Dada sakit. Perut sakit. Dan kadang dada terasa sesak. Alternatifnya beli obat NurisMart. Aku pun segera kesana. Memilah-milah mana yang kira-kira paling manjur. Yup, satu obat aku bawa pulang, yang sirup aja.

Sesampaiku di asrama, aku segera meminum obatnya. Dua sendok aku tenggak, diimbangi dengan air putih yang lumayan banyak untuk menetralisir rasa obat. Obatnya ngga enak!! Oh noo, aku lupa menaruh botol obat di atas kasur. Tanpa sengaja botol itu tersenggol, tumpahlah isinya hingga tersisa setengahnya. Mungkin si kasur juga batuk, jadinya ikutan minum obat. Hehe

Pagi ini, masih trauma dengan rasa obat  beserta accident-nya semalam. Aku berniat pergi ke pasar untuk membeli jeruk dan kecap. Pengobatan dengan cara tradisional. Konon batuk bisa diobati dengan perasan jeruk nipis dicampur kecap. Tapi, membayangkan semrawut dan kumuhnya pasar membuatku urung pergi. Ya sudahlah, nunggu sampai poliklinik buka saja.


Namun, tak disangka-sangka, pagi ini ibu sayur datang ke asrama membawa asa. Mungkin si ibu juga menjual jeruk nipis. Segera ku menemui beliau. Dan alhamdulillah, dugaanku benar. Aku beli dua buah. Daaan... aku ramu jeruk itu bersama kecap. Caranya seperti di gambar. Kayak pas belajar Prosedure Text. Rasanya enak, perpaduan asam, manis, asin. Kayak permen nano-nano ya? Semoga dengan minum ramuan ini batuk segera pergi. Aamiin...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar